Wednesday, February 15, 2017

Cara Membuat Pestisida Organik

Pestisida organik merupakan ramuan obat-obatan untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman yang dibuat dari bahan-bahan alami. Bahan-bahan untuk membuat pestisida organik diambil dari tumbuhan-tumbuhan, hewan dan mikroorganisme. Karena dibuat dari bahan-bahan yang terdapat di alam bebas, pestisida jenis ini lebih ramah lingkungan dan lebih aman bagi kesehatan manusia.

Bila dibandingkan dengan pestisida kimia, pestisida organik mempunyai beberapa kelebihan. Pertama, lebih ramah terhadap alam, karena sifat material organik mudah terurai menjadi bentuk lain. Sehingga dampak racunnya tidak menetap dalam waktu yang lama di alam bebas. Kedua, residu pestisida organik tidak bertahan lama pada tanaman, sehingga tanaman yang disemprot lebih aman untuk dikonsumsi. Ketiga, dilihat dari sisi ekonomi penggunaan pestisida organik memberikan nilai tambah pada produk yang dihasilkan. 

Produk pangan non-pestisida harganya lebih baik dibanding produk konvensional. Selain itu, pembuatan pestisida organik bisa dilakukan sendiri oleh petani sehingga menghemat pengeluaran biaya produksi. Keempat, penggunaan pestisida organik yang diintegrasikan dengan konsep pengendalian hama terpadu tidak akan menyebabkan resistensi pada hama.

Namun ada beberapa kelemahan dari pestisida organik, antara lain kurang praktis. Pestisida organik tidak bisa disimpan dalam jangka lama. Setelah dibuat harus segera diaplikasikan sehingga kita harus membuatnya setiapkali akan melakukan penyemprotan. Selain itu, bahan-bahan pestisida organik lumayan sulit didapatkan dalam jumlah dan kontinuitas yang cukup. Dari sisi efektifitas, hasil penyemprotan pestisida organik tidak secepat pestisida kimia sintetis. Perlu waktu dan frekuensi penyemprotan yang lebih sering untuk membuatnya efektif. Selain itu, pestisida organik relatif tidak tahan terhadap sinar matahari dan hujan. Namun seiring perkembangan teknologi pertanian organik akan banyak inovasi-inovasi yang ditemukan dalam menanggulangi hambatan itu.

Bahan baku pestisida organik

Bagian tumbuhan yang diambil untuk bahan pestisida organik biasanya mengandung zat aktif dari kelompok metabolit sekunder seperti alkaloid, terpenoid, fenolik dan zat-zat kimia lainnya. Bahan aktif ini bisa mempengaruhi hama dengan berbagai cara seperti penghalau (repellent), penghambat makan (anti feedant), penghambat pertumbuhan (growth regulator), penarik (attractant) dan sebagai racun mematikan. Sedangkan, pestisida organik yang terbuat dari bagian hewan biasanya berasal dari urin. Beberapa mikroorganisme juga diketahui bisa mengendalikan hama yang bisa dipakai untuk membuat pestisida. Berikut ini beberapa bahan yang sering digunakan untuk membuat pestisida organik :
Jenis Tanaman
Bagian yang digunakan
Hama/Penyakit yang dikendalikan
Adas
Biji
Kutu (beras, sereal, palawija)
Alang-alang
Rimpang
Antraknosa pada buncis
Babandotan
Seluruh tanaman
Nematode pada kentang
Bawang-bawangan
Umbi
Busuk batang pada panili
Bengkoang
Biji
Ulat pada kubis
Brotowali
batang
Lalat buahKutu aphids pada cabe
Cabe
buah
Hama tikus pada tanaman hias
Cengkeh
bunga
Phytopthora pada lada
Daun wangi
Daun
Lalat buah, bactrocera dorsalis
Gadung
Umbi
Tikus/rodentisida
Jahe
Rimpang
Ulat Plutella xylostella pada kubis
Jambu mete
Kulit
Ulat jambu mete
Jambu biji
Daun
Antraknosa
Jarak
Buah dan daun
Namatoda pada nilam dan jahe, Lalat penggerek daun pada tanaman terung-terungan
Jengkol
Buah
Walangsangit pada cabe
Jeruk nipis
Daun
Busuk hitam pada anggrek
Kacang babi
Biji
Ulat pucuk
Kayu manis
Daun
Pestisida organic
Kemangi
Daun
Busuk hitam pada anggrek
Kencur
Rimpang
Phytoptora pada lada
Acubung
Bunga
Kutu, ulat tanah
Kenikir
Bunga
Walangsangit
Kunyit
Rimpang
Phytoptora pada lada
Lada
Biji, daun
Hama gudang, Antraknosa pada cabe
Lengkuas
Rimpang
AntraknosaSemut pada lada
Mimba
DaunBiji
Antraknosa pada buncis dan cabe, Phytoptora pada tembakau, Belatung, Pengisap polong pada kedelai, Hama pengetam pada kelapa
Mindi
Daun
Ulat penggerek
Mahoni
Biji
Kutu daun pada krisanUlat tanah, Walangsangit, wereng coklat
Pacar cina
Daun
Spodoptera litura pada kedelai dan kubis
Pahitan/kipahit
Daun
Serangga Tribolium castaneum
Patah tulang
Daun
Molusca
Pandan
Daun
Walangsangit
Piretrum
Bunga
Hama gudang
Saga
Biji
Hama gudang sitophilus sp
Selasih
Daun
Lalat buah ( dacus correctus)
Sembung
Daun
Keong emas
Sereh
Batang, daun
Herbisida organic
Sirih
DaunAbu
Antraknosa pada cabeTMV pada tembakau, Hama gudang
Srikaya
Biji
Thrips pada sedap malam, Kutu daun pada kedelai, kacang panjang, jagung, kapas, tembakau
Sirsak
Biji, daun
Wereng coklat pada padi
Tembakau
Daun, batang
Ulat grayak pada famili terung-terungan (tomat, cabe, paprika, terung), Walangsangit
Tembelekan
Biji
Ulat grayak Spodoptera litura pada kedelai, Penggerek polong
Tuba
akar
Keong mas, Hama gudang

Macam pestisida organik dan cara membuatnya

Ada berbagai cara atau resep untuk membuat pestisida organik. Hingga saat ini tidak ada standardisasi pembuatan pestisida organik. Resep-resep pestisida organik biasanya didapatkan dari pengalaman para petani, kearifan lokal masyarakat, hasil percobaan para praktisi dan berdasarkan penelitian ilmiah. Berikut ini beberapa cara membuat pestisida organik yang sering digunakan para petani untuk mengendalikan hama dan penyakit.

a. Pengendali serangga penghisap (kepik dan kutu-kutuan)
     Siapkan bahan-bahan berikut, daun surian 1 kg, daun tembakau 1kg, daun lagundi 1 kg, daun titonia 1 kg, air kelapa sebanyak 2 liter, gambir 0,5 ons, garam dapur 1 ons dan air panas 500 ml. Kemudian siapkan penumbuk dari batu. Tumbuk daun tembakau, daun surian daun lagundi dan daun titania, aduk hingga rata. Apabila sudah lembut, rendam dalam air kelapa dan aduk-aduk. Kemudian ekstrak campuran tersebut dengan cara diperas dengan kain. Saring kembali hasil perasan dan tambahkan garam lalu kocek larutan. Siapkan cairan gambir dengan cara melarutkan setengah ons gambir dalam 500 ml air panas, lalu saring dengan kain halus. Langkah terakhir campurkan larutan daun-daunan dan larutan gambir. Masukkan dalam botol atau jerigen plastik. Ramuan pestisida organik siap untuk digunakan.

Cara menggunakan pestisida organik ini adalah dengan mengencerkan 500 ml larutan dalam 10 liter air bersih. Aduk hingga rata dan masukkan dalam tangki penyemprot. Lakukan penyemprotan pada pucuk tanaman terlebih dahulu kemudian permukaan atas dan bawah daun. Frekuensi penyemprotan dianjurkan dua kali seminggu hingga populasi larva atau kutu berkurang dan tidak membahayakan lagi.

b. Pengendali ulat pemakan daun
     Siapkan bahan-bahan yang diperlukan antara lain, air kelapa 2 liter, ragi tape 1 butir, bawang putih 4 ons, deterjen 0,5 ons dan kapur tohor 4 ons. Langkah pertama adalah tumbuk bawang putih hingga halus. Kemudian larutkan deterjen kedalam air kelapa dan aduk hingga merata. Setelah itu, masukan hasil tumbukan bawang putih, ragi tape dan kapur tohor. Saring campuran tersebut dengan kain halus. Langkah terakhir, fermentasikan cairan selama 20 hari dalam wadah tertutup. Pestisida organik pengusir ulat daun siap digunakan.

Cara penggunaan, encerkan larutan pestisida organik sebanyak 500 ml dengan 10 liter air bersih. Aduk hingga rata dan masukkan dalam tangki penyemprot. Frekuensi penggunaan sebanyak 2 kali seminggu, lakukan terus sampai serangan ulat menurun sampai taraf aman.

c. Pengendali penyakit cendawan atau jamur
     Siapkan bahan-bahan berikut, daun dakinggang gajah 5 ons, lengkuas 3 ons, jahe 3 ons, bawang putih 3 ons dan ekstrak titonia 3 liter. Tumbuk daun galinggang gajah, kemudian parut jahe dan lengkuas. Siapkan larutan daun titonia dengan cara menumbuk daun titonia hingga halus dan campurkan dengan 3 liter air, kemudian saring dengan kain halus. Setelah itu, masukkan bahan-bahan yang telah ditumbuk dan diparut ke dalam larutan titonia, aduk hingga merata. Saring dan peras campuran tersebut. Pestisida organik pengendali cendawan atau jamur siap digunakan.

Penggunaan, encerkan 500 ml pestisida organik ini dengan 10 liter air, aduk hingga rata dan masukkan kedalam tangki semprotan. Penyemprotan dilakuan pada seluruh bagian tanaman seperti pucuk, daun dan batang. Frekuensi penggunaan yang dianjurkan 2 kali dalam seminggu hingga serangan melemah.

d. Pengendali penyakit yang disebabkan bakteri
     Siapkan bahan-bahan berikut, daun sirih satu ikat, kunyit 2 ons, bawang putih 3 ons dan ekstrak daun titonia 3 liter. Tumbuk bahan-bahan tersebut satu per satu atau secara bersamaan. Rendam dalam ekstrak daun titonia selama beberapa menit, kemudian saring dengan kain halus. Pestisida pengusir bakteri siap digunakan. Cara penggunaannya dengan mengencerkan 500 ml larutan dalam 10 liter air. Frekuensi penggunaan 2 kali dalam seminggu.

e. Pengendali serangga penghisap, kepik dan kutu-kutuan dari daun inggu
     Siapkan daun inggu 1,5 kg, bunga tahi ayam 1,5 kg, gambir 0,5 ons, air kelapa 3 liter dan air bersih panas 500 ml. Daun inggu dan bunga tahi ayam ditumbuk hingga halus dan rendam dalam air kelapa. Peras dan saring campuran tersebut. Lalu siapkan larutan gambir dengan air panas yang sudah disaring. Camprkan dual larutan tersebut, pestisida organik daun inggu siap digunakan.
Cara penggunaan, 1 liter pestisida organik diencerkan dengan 10 liter air bersih. Aduk hingga rata dan masukkan dalam tangki penyemprot. Semprot seluruh bagian tanaman, frekuensi penyemprotan seminggu dua kali.

f. Pengendali antraknosa pada tanaman cabe
     Siapkan daun galinggang gajah 2,5 ons; daun tembakau 2,5 ons; daun thitonia 2,5 ons; daun lagundi 2,5 ons; garam 1 ons dan gambir 3 buah. Tumbuk halus daun galinggang, tembakau,thitonia dan daun lagun. Kemudian masukan kedalam ember yang berisi 1 liter air bersih, lalu tambahkan garam dan biarkan selama satu malam. Setelah itu saring larutan tersebut dan peras airnya sampai kering. Cairkan tiga buah gambir dengan satu gelas air panas dan campurkan kedalam larutan, aduk hingga merata. Pestisida organik untuk mengendalikan antraknosa yang biasa menyerang tanaman cabe siap digunakan.

Cara menggunakannya, masukkan larutan di atas ke dalam tangki semprot 15 liter. Penuhkan dengan air bersih dan aduk-aduk. Penggunaan pestisida organik ini sebiknya dilakukan sejak tanaman cabe mulai berbuah, semprotkan seminggu sekali. Kemudian amati tanaman, apabila ada buah cabe yang terserang antraknosa segera dipetik dan dibuang keluar lahan. Hendaknya penyemprotan dilakukan pagi atau sore hari. Air semprotan harus berbentuk kabut biar merata dan teknik penyemprotan dilakukan dari bawah ke atas. Pada musim hujan kita bisa menambahkan garam sebanyak 2,5 ons lagi pada larutan.

Berdasarkan pengalaman, pestisida organik ini bisa mengendalikan serangan antraknosa sampai 80 %. Ramuan tidak tahan lama dan masih bisa dipakai selagi aromanya masih khas. Apabila aromanya sudah berubah maka kemampuannya pun sudah menurun. Sebaiknya dibuat setiap kali kita akan memakai.

Semoga Bermanfaat. @Andumberkah

Informasi & Konsultasi : SMS / WA 081233198971


Wednesday, January 25, 2017

MEMBUAT BIO-STARTER UNTUK FERMENTASI DENGAN BAHAN LOKAL

Dalam pembuatan pupuk alami, tentunya kita membutuhkan Bio-Starter, atau bisa disebut Efektifitas Mikrooganism (EM). Bio-Starter berperan sebagai pengurai yang akan mempercepat proses fermentasi bahan alami menjadi nutrisi. Bahan-bahan untuk membuat Bio-Starter menggunakan bahan lokal, seperti :
1. Terasi 1/4 kg
2. Gula pasir 1 kg
3. Batang pohon pisang busuk
4. Dedak/bekatul 1 kg
5. Air mendidih 5 liter
6. Wadah/tong ukuran sedang 1 buah
7. Kantong plastik ukuran sedang 1 buah
8. Jerigen 1 buah
9. Ember 1 buah
10. Batang kayu ukuran 50 cm
11. Tali plastik 1 gumpal kecil

Proses pembuatan Bio-Starter :
Tahap 1

  • Rebus air 5 liter hingga mendidih, kemudian sisihkan pada wadah.
  • Masukkan 1/4 kg terasi ke dalam wadah air dan aduk.
  • Kemudian, masukkan 1 kg gula pasir dan aduk.
  • Masukkan pula 1 kg bekatul dan aduk.
  • Dinginkan sambil diaduk.

Tahap 2

  • Gedebong pisang yang sudah busuk diperas.
  • Sisihkan air perasannya sebanyak 5 liter.

Tahap 3

  • Campur adonan pada tahap 1 dan tahap 2, kemudian aduk hingga merata.
  • Tutup rapat campuran tersebut selama 3 hari dengan plastik yang diikatkan tali rapia pada wadah.

Tahap 4

  • Buka campuran setelah 3 hari, kemudian aduk campuran tersebut.
  • Tutup kembali dan buka keesokan harinya untuk diaduk sesuai kebutuhan. ulang proses serupa sampai hari ke 10.
  • Pada tahap 4 dilakukan evaluasi terhadap adonan media Bio-Starter. media Bio-Starter yang siap digunakan memiliki ciri : berbusa dan berbau asam.
  • Bio-Starter yang akan disimpan, sebaiknya ditempatkan pada jerigen.

Penyimpanan Bio-Starter Yang Sudah Jadi

Saran : Bila Anda kesulitan membuat Bio-Starter sendiri silahkan manfaatkan Bioteknologi Hayati BIOBOOST, yang didalamnya terdapat Mikroorganisme Cerdas dan kuat dengan teknologi pembiakan Isolasi.

Semoga Bermanfaat. @Andumberkah

Informasi & Konsultasi : SMS / WA 081233198971


Belanja BIOBOOST Online

Join Distributor BIOBOOST

Saturday, January 21, 2017

Cara Mudah dan Sederhana Membuat PUPUK BOKASHI

Bokashi adalah istilah dalam bahasa Jepang yang berarti “perubahan secara bertahap”. Secara umum pengertian bokashi adalah metode fermentasi bahan-bahan organik menggunakan starter  aerob maupun anaerob yang berlangsung secara cepat dan efektif. Starter yang digunakan dalam pembuatan pupuk bokashi adalah BIOBOOST, yaitu sekelompok mikroorganisme dekomposer.

Tujuan pembuatan pupuk bokashi adalah mempercepat pembusukan materi organik untuk memperbaiki sifat fisika, kimia dan bilogi tanah, dan meningkatkan unsur hara tanah.

Material organik yang biasanya digunakan sebagai bahan dasar pupuk bokashi adalah kotoran ternak, sampah organik atau sampah dapur. 

Cara Membuat Pupuk Bokashi 

Alat dan Bahan :
1. Kotoran Ternak yang sudah kering 60 kg
2. Jerami 20 kg
3. Hijauan daun 10 kg
4. Tanah Humus (top soil) 10 kg
5. Dedak 5 kg
6. Arang sekam 5 kg
7. Dolomit / abu bakaran secukupnya
8. Bioboost 100 ml / 10 tutup botol
9. Molasses/Gula pasir 200 gr
10. Terpal/Plastik, cangkul, gembor dll

Langkah-langkah  Membuat Pupuk Bokashi :

1. Buat larutan dekomposer fermentasi dengan cara :
  • 100 ml (10 tutup botol) Bioboost dimasukkan ke dalam 1 (satu) liter air, tambahkan 200 gram gula pasir lalu diaduk sampai larut.
  • Larutan ini kemudian didiamkan selama 15 menit.
  • Setelah 15 menit, larutan bibit fermentasi tadi dimasukkan ke dalam 15 liter air (pakai ember).
  • Aduk sampai larut.
2. Buat lubang diatas tanah dengan ukuran 1 x 0,5 meter dengan kedalaman kurang lebih 30 cm. Lubang dibuat pada tempat yang terlindung dari sinar matahari langsung dan hujan. Ukuran lubang bisa disesuaikan dengan banyaknya atau volume bahan-bahan bokashi.

3. Cincang jerami dan dedaunan. Kemudian campurkan semua bahan dan diaduk sampai tercampur rata.

4. Siramkan larutan dekomposer yang telah dibuat pada bahan bokashi sambil diaduk hingga tercampur rata.

5. Atur kelembaban hingga kira-kira mencapai 30 – 40%. Cara sederhanya dengan cara menggenggam campuran, jika menggumpal tidak pecah dan tidak mengeluarkan air berarti kelembaban sudah cukup. Jika pecah berarti kelembaban kurang.

6. Masukkan semua bahan kedalam lubang yang sudah disiapkan, kemudian ditutup rapat menggunakan plastik hitam atau terpal.

7. Agar suhu tidak terlalu panas, buka penutup dan aduk bahan bokashi setiap hari. Kemudian ditutup kembali.

9. Setelah 7 hari sejak pembuatan, biasanya bokashi sudah jadi dan siap untuk digunakan.

Manfaat Pupuk Bokashi :
a. Mempercepat proses pembusukan material organik sebelum diberikan ke alam.
b. Meningkatkan sifat fisika, kimia dan biologi tanah.
c. Meningktkan produktifitas tanaman.
d. Menjaga kestabilan produksi tanaman.
e. Meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi tanaman.
f. Menggemburkan tanah dan meningkatkan aerasi tanah.

Membuat Pupuk Bokashi skala Rumah Tangga 

Pupuk bokashi bisa dibuat dirumah dengan mudah, anda bisa memanfaatkan dari sisa-sisa makanan yang berjenis organik atau limbah dapur. Jenis limbah rumahtangga ini harus dipilah atau dipisahkan dari limbah rumah tangga organik dan non organik untuk dijadikan Pupuk bokashi. Dan hasil dari limbah tersebut juga sama jika anda membeli Pupuk bokashi yang sudah jadi dipasaran atau toko pertanian. Berikut ini adalah beberapa cara yang harus anda kerjakan : 

Bahan-bahan :
1. Kumpulkan jenis makanan sisa yang berjenis organik apapun itu.
2. Dedak / Serbuk gergaji 5 kg
3. Arang Sekam 5 kg 10 ml
4. Bioboost 10 ml / 1 tutup botol
5. Gula Pasir 2 sendok makan.

Langkah-langkah Pembuatan :
  1. Siapkan satu tong plastik ukuran 200 liter. Buat lubang bagian bawahnya untuk mengeluarkan cairan hasil pengomposan. Cairan ini berguna sebagai pupuk organik cair.
  2. Potong kecil-kecil bahan organik sampai benar-benar kecil agar cepat dalam fermentasi, kemudian campurkan bahan seperti dedak/serbuk gergaji dan arang sekam.
  3. Campurkan 10 ml / 1 tutup botol Bioboost dengan 1 liter air, tambahkan dua sendok gula pasir. Diamkan 10 menit, kemudian siramkan pada campuran bahan baku tadi.
  4. Campurkan larutan itu dengan bahan organik yang sudah anda cincang tadi dengan merata.
  5. Masukan ke dalam tong dan Tutup hingga rapat, atur kelembaban hingga 45ÂșC. Kemudian lihat perubahan, jika dilihat teksturnya merupai tanah maka sudah bisa dipastikan fermentasi anda berhasil. Kira- kira membutuhkan waktu 5-7 hari.
Pupuk bokashi sangat mudah sekali dilakukan baik sekala rumah tangga atau sekala besar untuk kebunya sendiri, namun dari sebagaian petani masih saja malas untuk membuatnya. Walau bagaimanapun anda adalah seorang petani yang hebat untuk menjadikan tanaman anda sehat dan merawatnya dengan baik.

Semoga Bermanfaat. @Andumberkah

Informasi & Konsultasi : SMS / WA 081233198971


Belanja BIOBOOST Online

Join Distributor BIOBOOST